Seorang bapak yang sukses, memiliki banyak usaha, rumah besar dan yang terakhir, dia baru saja membeli mobil Mercedes Bens, yang benar-benar dia sukai. Kadang dia bisa duduk minum kopi di teras sambil melihat mobilnya, atau duduk di dalam mobil dan menikmati musik dengan sound audio mobilnya yang memang luar biasa.
Bapak tersebut memiliki anak tunggal laki-laki yang baru berusia 6 tahun, aktif dan cerdas. Dia mencintai bapaknya dan ingin memberi pesan kepada bapaknya. Dicobanya menulis pesan di kertas dan menaruh di meja, namun bapaknya tidak terlalu memperhatikannya (kebetulan dia baru saja belajar menulis, dan sangat bangga dengan kemampuannya yang baru saja bisa dipelajarinya di TK).
Si anak muncul ide, untuk menulis pesan di body mobil Mercedes Bens bapaknya, dengan pesan : “Aku sayang papa”. Dia tunggu bapaknya pulang….dia berharap bapaknya segera membaca dan akan memeluknya …mengatakan betapa dia anak kecil sudah pandai menulis….anak hebat….anak luar biasa….Aaah bapak pasti akan mengangkat saya tinggi-tinggi dengan tangannya dan menggendong dipundaknya. Aaahh bapak pasti akan mencium saya lekat-lekat dan saya akan terkekeh-kekeh geli karena kumisnya.
Bapaknya pun pulang dan melihat goresan corat-coret di mobilnya, dia hanya melihat bahwa itu corat-coret dan bukan tulisan. Hatinya geram, emosinya naik, dipanggilnya anaknya dan diminta jari dan tangannya di atas meja dan dipukulnya tangan anaknya. Anaknya ‘shock’, menangis keras-keras sepanjang malam karena itu respons sang bapak yang diluar harapannya. Ibunya hanya bisa memeluk anaknya sampai si anak dan si ibu sama-sama tertidur karena kelelahan.
Esok harinya si anak sakit panas dan tidak sekolah. Bapaknya berpikir, dia panas pasti karena malam kurang tidur, dia tulis surat ijin ke sekolah dan pergi bisnis ke luar kota. Esok harinya si anak masih panas dan mulai memegangi jari tangannya karena sakit Dia sembunyikan tangannya dihadapan orangtuanya, dia masukan jarinya ke sakunya dan meringkuk tidur. Dia masih ’shock’ dan trauma dengan perlakuan bapaknya.
Setelah 5 hari masih panas, ibunya membawa ke dokter dan terkejut ketika jari anaknya ’dikeluarkan’ dari sakunya dan ternyata memerah, pada bekas pukulan bapaknya terjadi infeksi, dan dokter mulai memberikan pengobatan. Hari berlalu dan infeksinya bertambah, lukanya semakin parah, karena terlambat ditangani.
Ayahnya pulang dan meminta maaf kepada anaknya bahwa dia telah memukul jarinya terlalu keras. Si anak tetap terus membisu …. sampai akhirnya dia bersuara; ”Saya bisa memaafkan Papa….Papa bisa mengecat ulang mobilnya …..tapi Papa apa bisa mengembalikan jari saya yang harus diamputasi”.
Ketika kita berhasil menancapkan suatu pesan yang sangat kuat di alam bawah sadar seorang anak, maka informasi itu langsung mempengaruhi perilakunya. Itulah salah satu bentuk hypnosis yang sangat kuat. Oleh karena itu kita perlu keyakinan penuh dalam melakukannya sehingga hasil positif yang kita inginkan pasti tercapai.Hal ini memerlukan pemikiran yang mendalam dan kesadaran diri yang kuat dan terlatih. Jangan bertindak karena reaksi spontan dan menyesal setelah melakukannya.
Jika kita mau berpikir sedikit ke belakang di masa anak kita masih kecil, pada masa itulah semua “bibit” perilaku dan sikap ditanamkan. “Bibit” perilaku dan sikap ini yang kelak akan mewarnai kehidupan remaja dan dewasanya. Siapakah yang menanamkan “bibit” perilaku dan sikap itu untuk pertama kalinya? Ya anda pasti sudah tahu jawabannya, kitalah orangtua yang menanamkan segala macam “bibit” perilaku dan sikap itu.
Bagaimana jika sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan pengasuhnya (baby sitter). Berdoalah semoga pengasuhnya mempunyai pemikiran bijaksana dan bisa mempengaruhi anak secara positif. Berharaplah pengasuh anak (baby sitter) mengerti cara kerja pikiran dan mengerti bagaimana bersikap, berucap dan bertindak dengan baik agar anak anda memperoleh “bibit” sikap dan perilaku yang baik.
Seseorang bisa menjadi baik atau buruk pasti karena sesuatu “sebab”. Perilaku, ucapan sikap, dan pikiran yang baik atau buruk hanyalah suatu rentetan “akibat” dari suatu “sebab” yang telah ditanamkan terlebih dahulu. Mungkinkah terjadi “akibat” tanpa “sebab”? Mungkinkah anak kita berdusta tanpa sebab, mungkinkah anak kita “nakal” tanpa sebab, Mungkinkah anak kita malas belajar tanpa sebab ? Sebagai orangtua kita wajib mencari tahu apa penyebabnya. Tidaklah pantas sebagai orangtua kita langsung bereaksi spontan begitu saja tanpa memikirkan apa yang baru saja kita perbuat. Bukankah ini akan memberi contoh baru bagi anak kita tentang bagaimana bertindak dan bersikap?
Sewaktu kita punya anak, otomatis kita menjadi orangtua, tetapi kita tidak pernah punya pengalaman dan senantiasa belajar untuk menjadi orangtua. Kita mempunyai pengalaman menjadi anak. Jadi kita harus mendidik diri kita dengan belajar dari anak-anak. Bukan belajar dari apa yang dilakukan orangtua pada kita. Ingatlah perasaan sewaktu kita masih menjadi anak-anak. Amati mereka dan tanggapilah dengan penuh perhatian apa yang mereka inginkan. Pengharapan, perlakuan dan pengakuan seperti apa yang kita inginkan dari orangtua yang tidak pernah terpenuhi?

Mari kita renungkan sebuah syair di bawah ini :

Anak-Anak Belajar dari Kehidupan
(Karya : Dorathy Law Notle)

• Jika anak hidup dalam suasana celaan, ia belajar memaki
• Jika anak hidup dalam suasana permusuhan, ia belajar berkelahi
• Jika anak hidup dalam suasana cemoohan, ia belajar rendah diri
• Jika anak hidup dalam suasana hinaan, ia belajar menyesali diri
• Jika anak hidup dalam suasana toleransi, ia belajar menahan diri
• Jika anak hidup dalam suasana dorongan, ia belajar percaya diri
• Jika anak hidup dalam suasana pujian, ia belajar menghargai
• Jika anak hidup dalam suasana banyak dikritik, ia belajar mengutuk dan berkeluh kesah
• Jika anak hidup dalam suasana kecemburuan, ia belajar iri hati
• Jika anak hidup dalam suasana keadilan, ia belajar mengatakan yang sebenarnya
• Jika anak hidup dalam suasana kejujuran, ia belajar bahwa mempunyai sasaran itu baik
• Jika anak hidup dalam suasana kemurahan hati dan pertimbangan dalam kehidupannya,
ia belajar menghormati

Ichsan Solihudin,SS.CH
(Edukator, Motivator, Hypnotheraphy)