Sahabat….

Pasti kalian merindukan tulisan saya yang berbau misteri lagi ya…
“Ih GR banget..”
“Tapi… iya… sich”
“Emangnya ada lagi gicu”
Yap.. ada dong…
Ok..Sidang pembaca yang terhormat (“emangnya mau khutbah jum’at hi…hi…”)

Sahabat…
Mengenali teman yang sedang sedih, kecewa, atau stres, sangatlah penting. Hal ini erat kaitannya dengan empati. Kadang kita tidak tahu kalau orang yang diajak berkomunikasi dengan kita sadang ‘bete’ hanya tidak mengatakan kepada kita, dan dari penampilannya biasa-biasa saja. Namun bila kita salah mengambil sikap ini bisa berabe, bahkan bisa memperkeruh suasana. Bener apa bener?

Biasanya, orang yang sedang sedih, kecewa bahkan stres, sering lupa dengan penampilannya. Dia juga sering menunduk dengan memegang atau mengusap bagian belakang kepala sambil sesekali menggaruknya. Lihat aja pemain sepak bola , bila gagal menjebol gawang lawan, ekspresinya menunduk plus tangannya sesekali mengusap kepala bagian belakang.

Selain gerak di atas, ada juga dengan mengusap jidat. Gerak tersebut dilakukan pada saat posisi duduk. Raut muka kelihatan sekali. Misalnya, tatapan mata terlihat kosong atau agak takut-takut. Mata merah berair seperti mau menangis. Bibir bergetar dan senyumnya seperti tertahan.

Di lihat dari komunikasi, orang sedih, kecewa bin stres juga kelihatan. Nada suara rendah dan , bisa jadi tesendat-sendat, kecepatan berbicara yang lambat, tekanan yang datar, juga nada suara yang serius. Semua hal ini merupakan kebalikan dari tanda-tanda orang sedang bahagia.

Nah… sahabat… Pertanyaannya adalah bagiamana kita sebagai teman yang baik menyikapinya?
Ok.. hal yang baik yang kita lakukan adalah berempati terhadap apa yang dialami mereka, lalu dengarkan keluhannya. Jangan sesekali menyalahkan masalah yang sedang dihadapi. Dengan menjadi pendengar yang baik, menurut para ahli akan meringankan beban teman yang sedang kena masalah tersebut.

Selain menjadi pendengar yang cenderung pasif, bisa saja kamu memberikan komentar. Misalnya memberi motivasi dan memberikan semangat. Bujuk secara halus supaya melupakan apa yang sudah terjadi. Memang hal ini dibutuhkan strategi yang jitu, kalau salah bisa runyam.

Ada yang berpendapat, dengan menceritakan permasalahan kepada ortu, sahabat, ataupun teman yang dapat dipercaya, 50 % permasalahan akan terpecahkan. Apalagi sekarang dunia komunikasi berkembang dengan pesat. Kita bisa sharing dengan teman atau sahabat kita untuk saling berbagi masalah. (“emangnya kueh dibagi hi…hi..) . Misalnya, lewat media Telepon, HP, SMS, email, chatting, fB, atau blogger. Walaupun dengan media tersebut kita tidak mengetahui bahasa tubuh orang yang diajak berbicara. Namun ini juga menjadi senjata ampuh untuk mengurangi kekecewaan, kesedihan, stres bahkan depresi.

Ok.. cukup sekian ya.. Moga catatan ini bermanfaat, dan untuk edisi selanjutnya kita akan bahas tentang “Kiat Menghadapi orang yang Lagi Marah Plus Bahasa Tubuh yang Lagi Marah seperti apa? Semakin seru kan..? Makanya sabar ya…

SALAM SEMANGAT !

Ichsan Hamasah, S.S., C.H.,C.Ht.