aku teteskan buih kejernihan dari kedua mataku.
mengalir lembut ketepian raut senduku.
apa ini?
ini bukan airmata,
tapi ini derita.
meneteskan lara,
dan membekaskan goresan luka didasar hatiku yang paling dalam.
bukan cinta saat ia mencoba tersenyum teduh menatap jauh kedalam mataku,
tapi lebih nampak seperti kekaguman akan besarnya cintaku.
bukan cinta saat ia menangis,
berlutut mengharapku ada disisinya,
tapi lebih nampak seperti penyesalan karna telah membuatku terluka.
tak pernah aku hidup dihatinya sebagai nyawa yang dicintai.
baginya aku hanyalah sehembus angin yang datang dan kan pergi begitu saja.
mungkin airmata ini tidak akan pernah mengering.
membekaskan sayatan yang semakin hari kan menyiksa.
tapi aku selalu berharap,
airmata ini kan selalu menjadi doa yang mengiringi setiap langkahnya,
dimanapun dia berada.
sampai ia sadar bahwa airmata yang ia injak-injak selama ini, begitu berharga.
dan aku akan melihat dia mencintaiku,
nanti.
hingga akhirnya,
dia menyadari bahwa aku telah tiada. (by Nita )

Sahabat….

Untaian puisi di atas menyiratkan makna yang dalam apa yang namanya CINTA. Demikianlah cinta bila ditempatkan pada posisi yang positif akan melahirkan sebuah peradaban manusia yang monumental. Lihatlah apa yang dilakukan oleh Soekarno dan Hatta, mereka berdua mengalami penderitaan akibat pilihan hidupnya melawan keangkaramurkaan kaum penjajah. Mereka keluar masuk dari penjara, di jauhkan dari keluarga, tapi apa yang terjadi? Apakah mereka surut ke belakang? Jawabannya, TIDAK. Langkah kaki mereka mantap hingga mengantarkan Indonesia memasuki gerbang kemerdekaan.

Nah.. mengapa Soekarno, dan Hatta begitu Siap menyongsong penderitaan. Jawabannya karena CINTA. Ya… Cinta. Cinta yang ditempatkan dan ditumpahkan pada posisi yang benar begi negeri ini. Bagi keimanan mereka dan bagi pengabdian mereka ke negeri ini.

Sahabat…

Kisah dibawah ini juga begitu sarat pelajaran. Kejadiannya diriwayatkan oleh Al Mubarrid dari Abu Kamil, dari Ishak bin Ibrahim dari Raja’ bin amr Al Nakha’i. Seorang pemuda Kufa yang dikenal dengan ahli ibadah suatu saat jatuh cinta dan tergila-gila dengan seorang gadis. Cintanya berbalas. Gadis itu sama gilanya. Bahkan ketika lamaran sang pemuda ditolak karena sang gadis telah dijodohkan dengan saudara sepupunya, mereka tetap nekat. Gadis itu bahkan menggoda kekasihnya, ” Aku datang padamu, atau kuatur cara supaya kamu bisa menyelinap ke rumahku”. Itu jelas jalan syahwat.

“Tidak! Aku menolak kedua pilihan itu. Aku takut pada neraka yang nyalanya tak pernah padam!” Itu jawaban sang pemuda yang menghentak sang gadis. Pemuda itu memenangkan iman atas syahwatnya dengan cinta. Sang Gadis seketika terhenyak. Hingga kemudia rasa cintanya kepada sang pemuda ditumpahkan kepada Sang Pemberi kehidupan, yakni Allah. Cintanya pada pemuda tersebut tidak mati hingga mengantarkannya dia dipanggil oleh Sang Pemilik Kehidupan.

Sang pemuda terhenyak dari mimpi buruknya. Gadisnya telah pergi membawa semua cintanya. Maka kuburan sang gadislah tempat ia mencurahkan rindu dan do’a-do’anya. Sampai suatu saat ia tertidur dan bermimpi. Sang gadis hadir di dalam tidurnya. Cantik. Sangat Cantik. “Apa Kabar? bagaimana keadanmu setelah kepergianku.” tanya sang gadis.”Baik-baik saja Kamu sendiri di sana bagaimana,” jawabnya sambil balik bertanya.”Aku di sini dalam surga abadi, dalam nikmat dan hidup tanpa akhir,” jawab gadisnya.”Doa’akan aku. Jangan pernah lupa padaku. Aku selalu ingat padamu. Kapan aku bisa bertemu denganmu,” tanya sang pemuda lagi. “Aku juga tidak pernah lupa padamu. Aku selalu berdo’a agar Allah menyatukan kita di surga. Teruslah beribadah. Sebentar lagi kamu akan menyusulku,” jawab sang gadis. Hanya tujuh malam setelah bermmpi itu, sang pemuda pun menemui ajalnya.

Sahabat…

Demikianlah Cinta. Cinta bisa membuat manusia tersesat. Tapi dengan Cinta juga manusia terselamatkan . Mengapa terselamatkan? Karena Cintanya dibungkus dengan keimanan. Cintanya mengalahkan syahwatnya.

Inspirasi “Serial Cinta” karya Anis Matta

Salam Cinta