Bila kau berkeinginan menjadi ilmuwan
Mulailah hidup sebagai pencari ilmu
Mulailah menggelorakan semangat belajar
Mulailah menghargai pengetahuan
Bangkitkan rasa ingin tahu

Jangan merasa diri paling tahu
Jangan merasa diri paling pandai
Jangan merasa diri pintar. (Santy Fidrianna)

Friend,
Aisyah Nur Kumalasari, Bersama Kepala Sekolah SMAN 40 Pademangan

Jejak Aisyah Nur Kumalasari, siswi kelas XII IPA 1 SMAN 40 Pademangan, Jakarta Utara, rasanya patut diteladani atau diikuti oleh kita para pelajar, yang ingin mewujudkan cita-cita.

Keluarganya yang tergolong miskin tak membuat Aisyah surut dalam menimba ilmu. Alhasil, gadis berparas ayu ini memetik hasilnya, yakni berhasil masuk perguruan tinggi di Universitas Indonesia tanpa melalui tes, tidak seperti calon mahasiswa lainnya.

Menariknya, Aisyah berhasil masuk ke kampus itu tanpa harus bersusah payah seperti siswa lainnya, mengikuti berbagai macam tes. Tentu ini menjadi kebanggaan, baik bagi keluarga maupun tempatnya bersekolah. Kini anak seorang tukang ojek itu diterima di Fakultas Kesehatan Masyarakat Jurusan Ilmu Gizi.

Kedua orangtua Aisyah Nur Kumalasari , tentu bangga dan berbesar hati menerima kenyataan bahwa anaknya diterima tanpa tes di salah satu universitas paling bergengsi di negeri ini, Universitas Indonesia. Namun, bagaimana dengan Aisyah sendiri?

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur, meskipun kondisi ekonomi orangtua tidak mampu, akhirnya saya diterima di UI tanpa harus melalui tes. Memang sudah cita-cita saya untuk membahagikan orangtua,”

Ayahnya hanya seorang tukang ojek di wilayah Pademangan. Penghasilan ayahnya tidak lebih dari Rp 70.000 per hari. Penghasilan itu hanya pas untuk biaya hidup sehari-hari, apalagi ibunya, hanya sebagai ibu rumah tangga biasa yang juga mengasuh seorang adik Aisyah.

“Ya, mau gimana lagi, semua serba pas-pasan. Ayah orangnya tidak pernah mengeluh dengan situasi ekonomi, begitu juga ibu. Bahkan, ayah selalu menyemangati saya untuk terus belajar karena, dengan memiliki ilmu, jalan untuk sukses selalu ada,”

Dalam kesehariannya, Aisyah tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana. Bahkan boleh dibilang, tempat tinggalnya di Pademangan Timur VIII/5, RT 014/ RW 010, yang didiami sejak kecil itu tidak layak huni. Bangunannya hanya berdindingkan tripleks dengan ukuran 2,5 x 8 meter dan berlantai semen. Jarak rumahnya dengan rel kereta api hanya 2,5 meter

Saat ada Program Penelusuran Minat dan Kemampuan atau PMDK di Universitas Indonesia, Aisyah langsung mengikutinya. Ada 177 siswa kelas XII dari SMAN 40 Pademangan yang mengikuti program tersebut. Itu artinya, Aisyah harus bersaing dengan 176 orang temannya satu SMA.
Untuk mewujudkan cita-cita HARUS siap berkompetisi

Hasil seleksi menunjukkan, dari jumlah tersebut hanya empat siswa yang mendapat kesempatan mengikuti program PMDK dari UI. Dari kelas IPA ada Aisyah Nur Kumalasari dan Filda. Adapun dari kelas IPS ada Citra dan Anggun.

Namun sayangnya, registrasi PMDK ini tidak masuk dalam program beasiswa 1000 Anak Bangsa karena dalam pengisian formulir Aisyah mencantumkan pendapatan orangtuanya dalam sebulan Rp 1 juta. Padahal, seharusnya pengisian tersebut kurang dari Rp 1 juta. Akibatnya, dia dikenakan biaya Rp 12 juta per semester. Tentunya dengan biaya tersebut, orangtua Aisyah, tidak akan mampu.

Untuk memperjuangkan pendidikan yang lebih tinggi untuk Aisyah, pihak sekolah mengusahakan agar Aisyah mendapat keringanan biaya masuk UI dan biaya SPP tiap semester. Hasilnya, pihak sekolah pun membayarkan biaya masuk UI sebesar Rp 800 ribu melalui dana sumbangan guru dan alumni.
Tiket masuk UI memang tidak akan disia-siakan Aisyah. Kunci masuk gerbang perguruan tinggi ini akan digunakan untuk mencapai cita-citanya menjadi seorang guru atau dosen. (Sumber Kompas. Com)

Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu?….
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.
Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.
Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, di atas bantarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.
Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi,
Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan.
(Khaalil Gibran)

Salam Sukses

Ichsan Solihudin,S.S., C.H., C.Ht., C.I.

Penulis Buku Best Seller “Hypnosis For Student”
Trainer & Mind Theraphist
Owner Alif Warnet & Computer
Konselor & Pengajar Pusat Bimbingan Belajar Villa Merah