Tiada yang paling indah bila apa yang menjadi cita-cita kita dapat diraih.Ketika kita dapat meraihnya, tidak jarang kita melewati halangan dan rintangan. Bahkan tidak jarang cacian dan makian menimpa kita. Namun di sinilah, ujian mental kita. Bila kita lolos dari ujian tersebut berarti kita akan naik kelas, dan itu artinya selangkah menuju sukses. Lain halnya bila kita menyerah, berarti kita berhenti di titik tersebut.

Apa yang dituturkan di atas adalah inspirasi yang saya dapatkan dalam film “Menembus Impian”. Film yang digarap langsung oleh sutradara kenamaan Hanung Bramantyo ini mampu memberikan persepsi yang berbeda tentang kegigihan seorang wanita yang berani menjalani hidup dengan segala keterbatasan ekonomi yang sedang meraka hadapi.
Film ini dimulai dengan kisah Nur, seorang mahasiswi yang menjalani kehidupan keras bersama ibunya, Sekar, yang hanya bekerja sebagai seorang buruh cuci. Keduanya memiliki pandangan yang berbeda untuk meraih kehidupan yang lebih baik, sang ibu lebih memilih agar Nur memfokuskan diri pada kuliahnya, sedangkan Nur berpikiran untuk secepatnya bekerja untuk bisa membantu nafkah mereka.

Dalam perjalannnya, Nur kemudian bertemu Dian, seorang mahasiswa yang gigih berusaha lewat jalan MLM, walau masih sepantarannya namun sudah mulai mapan. Dian jugalah yang membuat Nur kembali berani untuk bermimpi dan bercita-cita kembali. Setelah beberapa kali jatuh bangun di bawah dukungan Dian, Nur pada akhirnya mulai merasa ragu dengan mimpi miliknya yang tampak tidak mungkin untuk diraih Lebih-lebih ketika diketahuinya, bahwa Sang Ibu, mengalami menghidap kangker batang otak. Pada saat itulah Nur harus matia-matian mencari uang untuk membiayai sang ibu yang tak berdaya terbaring di rumah sakit.

Hidup ini indah

Jangan kau buat itu susah
Masih ada mimpi yang kan mendekatimu
Resapilah makna dari hidup ini
Karena itulah harapan kita
Berlarilah dan jangan pernah berhenti
Dari semua pilu yang menghambat langkahmu
Tinggalkan beban di pundakmu
Hadapi rintangan yang menghalangimu dengan tekad, usaha, dan do’a.