Sahabat….

Hari ini tepat tgl 10 November 2010, negeri ini menetapkan sebagai hari pahlawan. Apakah di hari pahlawan ini kita melaluinya seperti hari-hari yang lainnya. Tanpa mengambil pelajaran apa di balik peristiwa heroik ini. Sudahkah kita mengetahui apa itu pahlawan ? . Apakah kita tergerak fisik dan jiwa ini menjadi manusia yang layak mendapat surganya dengan amal dan karya terbaik ?. Bahkan inginkah amal dan karya kita sebagai pengisi peradaban abad 21 ?

Tulisan di bawah ini berusaha memberikan jawaban apa yang menjadi gundah gulana saya, dan sahabat tentang makna pahlawan sejati tersebut.

Sahabat…

Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan kebumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali kelangit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis.

Mereka tidak harus dicatat dalam buku sejarah. Atau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka bukan malaikat. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah gunung: karya kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang lama.

Ditengah badai ini kita merindukan pahlawan itu. Pahlawan yang, kata Sapardi, “Telah berjanji kepada sejarah untuk pantang menyerah”. Pahlawan yang, kata Chairil Anwar, “berselempang semangat yang tak bisa mati”. Pahlawan yang akan membacakan “Pernyataan” Mansur Samin:

Demi amanat dan beban rakyat
Kami nyatakan keseluruh dunia
Telah bangkit ditanah air
Sebuah aksi kepahlawanan
Terhadap kepalsuan dan kebohongan
Yang bersarang dalam kekuasaan
Orang-orang pemimpin gadungan
Maka datang jugalah aku kesana, akhirnya. untuk kali pertama. Ke Taman Makam Pahlawan, di Kalibata. Seperti dulu aku pernah datang kemakam para sahabat Rosululloh saw di Baqi’ dan Uhud, di Madinah. Karena kerinduan itu. Dan kudengar Chairil Anwar seperti mewakili mereka :

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Tulang-tulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid? Ataukah tak lagi ada ibu yang mau, seperti kata Taufik Ismail di tahun 1966, “Merelakan kalian pergi berdemonstrasi… karena kalian pergi menyempurnakan… kemerekaan ini”.

Tulang belulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukah, seperti kata Sayyid Quthub, “Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tinggalkan senjata dari bahumu?”

Tidak! Kaulah pahlawan yang kurindu itu. Dan beratus jiwa di negeri sarat nestapa ini. Atau jika tidak, biarlah kepada diriku saja aku berkata : “Jadilah pahlawan itu

Inspirasi Tulisan Anis Matta “Mencari ahlawan Indonesia”

Ichsan Hamasah, C.Ht.

Trainer- Motivator & Mind Therapist

Direktur PT. Alif Cahaya Persada

Informasi untuk konsultasi & traning :

Hp : 085 320 145 475
Email : Ichsan_supersemar@yahoo.co

.id